“Jangan lupa jam tiga nanti, ya.”
Aku membalas singkat pesan masuk tersebut dari
teman SMA-ku.
“Oke, sip!”
Aku bergegas merapikan diri. Kukenakan pakaian
terbaikku untuk menghadiri acara ulang tahun temanku sore ini; kemeja berwarna
merah ditambah dengan dasi hitam yang akan menambah nilai rapih. Tak butuh
waktu lama, kuambil kunci motor lalu pergi menuju acara tersebut.
Seperti biasanya jalan di sekitar sini memang
sering sekali macet. Aku tak ambil pusing. Dengan sabarnya aku menyalip
beberapa mobil di depanku sambil bernyanyi-nyanyi kecil layaknya orang yang tak
dikejar waktu. Padahal pada saat itu jam sudah menunjukkan pukul dua lewat
empat puluh menit. Ya, aku harus cepat agar tidak terlambat.
(Lima belas menit berlalu..)
“Haaaah..”
Dari kejauhan sudah tampak rumah tempat teman
SMA-ku tinggal. Tepat di depan rumahnya, kuparkir motor yang kugunakan, lalu
menghampiri sang tuan rumah. Dia adalah Mira yang pada saat itu berada di depan
halaman rumah. Tanpa basa-basi aku langsung mengatakan kalimat ucapan ulang
tahun yang cukup sederhana.
“Hei! Selamat ulang tahun ya, Mira.” Ucapku
sambil mengejutkannya.
“Eh, Ryan. Akhirnya kamu datang juga. Makasih
yah.”
Aku berbincang-bincang dengannya tentang apa
saja yang menurut kita asik. Aku dan Mira larut dalam obrolan seru, sampai
tanpa sadar, sudah banyak yang berdatangan.
Kalau aku mati.
Datanglah ke rumahku, tanyakan penghuni lainnya, di mana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tahu rumahku.
Datanglah ke sahabatku, tanyakan di mana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tahu siapa sahabatku.
Datanglah ke teman-temanku, tanyakan di mana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tahu siapa teman-temanku.
Datanglah ke musuhku, tanyakan di mana aku dimakamkan, dia pastitahu karena dialah yang paling mengharapkan kematianku.
Kalau kau tidak tahu siapa musuhku.
Datanglah ke tempat terakhir kita bertemu.
Di sana, jauh sebelum aku mati. Aku sudah memakamkan diriku sendiri di depanmu.
Tanpa sepengetahuanmu.
Datanglah ke rumahku, tanyakan penghuni lainnya, di mana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tahu rumahku.
Datanglah ke sahabatku, tanyakan di mana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tahu siapa sahabatku.
Datanglah ke teman-temanku, tanyakan di mana aku dimakamkan.
Kalau kau tidak tahu siapa teman-temanku.
Datanglah ke musuhku, tanyakan di mana aku dimakamkan, dia pastitahu karena dialah yang paling mengharapkan kematianku.
Kalau kau tidak tahu siapa musuhku.
Datanglah ke tempat terakhir kita bertemu.
Di sana, jauh sebelum aku mati. Aku sudah memakamkan diriku sendiri di depanmu.
Tanpa sepengetahuanmu.
-Jakarta (@soyidiyos)
Hai, kamu. Kamu yang sudah aku anggap sebagian dari hidup aku. Ini aku; dengan segala kekuranganku yang mungkin tidak pantas untuk kamu bangga-banggakan. Aku cuma pengen kamu tau, kalo aku ini lelah. Aku lelah menjadi orang yang selalu ada untuk kamu. Walaupun kamu tidak menyadari itu semua.
Kita memang belum lama dekat satu sama lain. Walaupun begitu, aku sudah bisa merasakan sesuatu. Sesuatu yang bisa disebut jatuh cinta. Jatuh cinta memang wajar. Apalagi saat jatuh.. kita bisa terluka. Sekarang aku bisa mengetahui rasanya jatuh cinta kepada seseorang yang jelas-jelas tidak jatuh cinta kepadaku kembali. Ya, bisa dibilang ini sebuah cinta bertepuk sebelah tangan. Aku tidak mengetahui, kalau kamu benar-benar tidak cinta kepadaku atau mungkin kamu belum bisa untuk jatuh cinta? Kalau saja aku tanyakan tentang ini kepadamu, sudah pasti kamu tidak mau atau tidak bisa menjawabnya. Memang bodoh, kalau aku memaksa kamu untuk menjawabnya.
Sambungan..
Sepulang dari acara
tahun baruan di pusat kota Sukabumi, kami berniat untuk membuat jagung bakar
untuk dimakan. Ya, untuk dimakan, bukan untuk diminum. Yah, acara kecil-kecilan
gitu. Sekitar 10 jagung bakar habis kita makan dengan alasan lapar. Lalu,
karena makan terlalu banyak dan menyebabkan kekenyangan, akhirnya kita semua
tidur pulas dan ngorok. (errr.. fi fi fiw~) begitulah bunyinya. Keesokan
harinya kita semua beraktivitas seperti halnya hari-hari kemarin yang
apa-banget-sih. Ya, kita semua sudah merasa bosan di sana.
Dua hari pun
berlalu. Pagi-pagi kita semua bergegas pulang meninggalkan Sukabumi beserta
cewek-cewek unyunya. Hmmp, agak berat sih, tapi yaudahlah. Sebelum pulang kita
semua diajak jalan-jalan ke puncak hanya untuk berfoto-foto. Aaaakkk.. puncak.
\o/
Hari sabtu, tanggal
29 Desember kemarin, gue beserta temen-temen semua ditawarkan untuk pergi
liburan ke Sukabumi, oleh salah satu temen gue bernama Izwar. Ya, tentu saja
Izwar ini orangnya sangat baik. kenapa baik? karena ngajak gue dan temen-temen
liburan bareng. Setelah mendengarkan tawaran itu, gue dan temen-temen sangat
senang dan langsung saja menerima tawaran tersebut dengan alasan yang cukup
simple; ya, kita semua bosen liburan di rumah. Tidak lama kemudian, kita semua
pun langsung saja membicarakannya langsung di rumah Izwar.
***
Di rumah Izwar, kita
semua harus melewati proses berbincang-bincang yang cukup lama dengan orangtua
Izwar untuk mendapatkan izin pergi. Dari hasil berbincang-bicang, akhirnya kita
mendapat 5 syarat untuk mendapatkan izin pergi ke Sukabumi.
Syaratnya:
1) Kita boleh pergi,
asalkan mendapatkan izin dari orang tua masing-masing.
2) Kita boleh pergi,
asalkan membayar Rp.50.000 untuk uang bensin mobil Izwar.
3) Persatuan
Indonesia.
4) Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, dalam permusyawaratan perwakilan.
5) Keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.
"Wah, ngehek.
hanya dengan uang Rp.50.000 dan mengamalkan Pancasila aja kita bisa pergi ke
Sukabumi bareng." Gue pun terkejut.
Setelah pulang dari
rumah Izwar, gue dan semua temen-temen pun pulang ke rumah dan langsung packing
untuk mempersiapkan barang apa saja yang harus dibawa, karena keesokan harinya
kita harus segera pergi. Ya, tentu saja kita pergi ke Sukabumi, bukannya pergi
untuk syuting "Jejak Petualang Survival". Halah. "Gila
lu, Ndro."
Keesokan harinya pun
tiba. Wuuuussssh! (Wuuuussssh!: Suara angin)
Jam 7 pagi, gue pun
sudah siap siaga berkumpul di rumah Izwar sambil menunggu temen-temen lainnya.
Tidak lama kemudian, kita semua sudah berkumpul. Tidak lama kemudiannya lagi,
kita semua langsung pergi ke kota Sukabumi. Yeaah! (aduh, sengaja saya
cepetin, biar gak lama)
Setelah melewati
kira-kira 4 jam lamanya di jalan, kita semua sampai di tempat tujuan yaitu kota
Sukabumi. Lebih detailnya kita semua sampai di sebuah desa Batu Nunggal,
Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Disana, kita semua tinggal di sebuah
rumah yang sejuk dengan pemiliknya adalah Bibi dari Izwarnya sendiri.
Rencananya, kita akan menetap tinggal di sana. karena tidak dibolehin, jadinya
kita hanya 5 hari di sana. hehe. (apa sih?)
Hari pertama di
sana, kegiatan kita hanya makan > tidur > main kartu remi > jalan ke
luar rumah > tidur > makan > kentut bareng gegara masuk angin - tidur
lagi. Ya, beberapa hari yang kita jalanin di sana, kita habiskan hanya untuk
melakukan kegiatan rutin yang tidak pantas disebut kegiatan rutin. (apa sih?)
Setelah beberapa
hari berturut-turut kita melakukan kegiatan rutin yang tidak pantas disebut
kegiatan rutin. (apa sih?), kita semua bersepakat pergi ke pusat kota Sukabumi
untuk pergi ke acara malam tahun baruan di sana. Acara tahun baruan di sana
sangatlah meriah. Bukan karena petasan, kembang api, ataupun bazookanya, tapi
di sana sangat meriah karena dihadiri oleh berbagai cewek-cewek unyu dari
belahan kota Sukabumi, bukan belahan dari dada Jupe. Ya, tentu saja cewek-cewek
unyu tersebut banyak juga yang membawa hewan peliharaannya berupa monyet*
(*pacarnya). Setelah asik keliling-keliling mencari jajanan dan melihat
pemandangan berbagai cewek unyu, kita pun segera pulang ke rumah. Ya, ke rumah
Bibi dari Izwar, bukannya ke rumah masing-masing. (lho? cepet banget tahun
baruannya)
bersambung..
Langganan:
Postingan (Atom)






- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact